6/25/08

Solo Exhibition


Opening:
Saturday 28 June 2008 at 5 pm
exhibition 28 june - 12 july 2008
VIVI YIP ART ROOM
Jl Warung Buncit Raya 98,Pejaten ( besides Philips Building )
Jakarta, Indonesia











Utola Land:

Dunia Fantasi Hendra “Hehe” Harsono

Selamat datang di Utola Land ! Sebuah dunia rekaan Hendra “hehe” Harsono, bernama Utola. Didalamnya Anda akan menjumpai berbagai figur dan binatang yang beragam. Jangan kaget apabila te-tumbuhan dalam pameran ini menyerupai manusia, binatang yang mendekati wujud manusia, dan juga sebaliknya, manusia yang seperti binatang dan tetumbuhan. Pendeknya, di Utola Land ini Anda akan disapa oleh berbagai wujud-wujud hibrid. Mereka, bagi Hendra, adalah sahabat-sahabat yang ramah dan selalu memberikan senyum bagi siapapun yang ingin masuk dan berkenalan dengannya.

Utola Land ini adalah dunia imajiner Hendra pada tempat yang Ia bayangkan beriklim tropis, sebagaimana Indonesia. Adapun kata Utola disitu sama sekali tidak ada dalam peta wilayah geografis di muka bumi ini, Ia begitu saja memberi nama-nama itu. Begitu pula dengan caranya memberi nama figur-figurnya disitu yang berlangsung spontan dan begitu saja. Ringan tanpa pikir panjang. Dan bila kebetulan ada nama-nama yang cocok dan mirip dilingkungan Anda, itu diluar perkiraanya. Maka please no hard feeling, katanya. Ada Cactus Jack, sikaktus hijau yang hidup, Blu, si bocah yang selalu berkostum biru dan senang dengan balon, Bigo, si pemandu yaitu seekor burung kecil berwarna biru, Tuan Kayu, pohon yang berbicara, dan Tuan Kelinci, penguasa hewan.

Mencipta dan Menghidupkan Karakter

Karya-karya Hendra Harsono atau akrab dipanggil “He-he” ini memperlihatkan fenomena budaya popular diIndonesia yang memicu lahirnya ranah sub-kultural anak muda dan membangkitkan pengalaman estetika popular dikalangan perupa muda pada zona ini. Hendra mengakrabi kegiatan dan produk popular. Seperti yang ditunjukkan pada minat untuk mempelajari action figures, membuat karakter figur untuk label kaos “Nothink” dan “Cynicallovemonster”. Hendra menunjukkan afiliasinya pada seni urban, sebagaimana yang pernah Ia ikuti pada acara-acara seni urban semisal: “Black Urban Art”,”Superb Ambition” di Jakarta, “Get It (W)all” di Jogja, dan di sejumlah tempat lainnya. Selain itu Hendra juga beberapa kali ikut dalam pameran yang menonjolkan aspek permainan karakter figur dalam “Capo” sebuah pameran keliling yang disponsori oleh label“NoLabelStuff” (Bandung).

Pengaruh penciptaan karakter ini sebetulnya telah lazim kita kenal. Kita pernah mengenal kreasi-kreasi penciptaan karakter demikian, seperti: Micky Mouse sebuah karakter rekaan Walt Disney, Astro Boy dari Osamu Tezuka, dan lain-lain. Hendra terobsesi untuk membuat karakter yang Ia sematkan untuk figur monster bermata tiga dan bisu, yang ia beri nama: Moboo, pada pameran tunggal pertamanya pada: “Share a bed with monster” di Via-via Kafe, Yogyakarta, 2007 silam.

Hendra adalah satu dari kecenderungan perupa muda di Jogja yang banyak memainkan aspek penciptaan karakter ini. Sejumlah rekan-rekannya yang juga perupa muda yang bermain di zona ini , seperti: Iwan “Eli” Effendi yang terkenal dengan karakter Eli-nya, Farid Stevy Asta dengan “Chick and Lad”, Tera Brajagosa melalui “Robot Goblok” dan lain-lain. Fenomena penyematan karakter ini bisa kita jumpai pula disejumlah dinding kota Yogyakarta, salah satunya yang terkenal adalah “Love Hate Love”. Umumnya modus penyebaran karakter ini dilakukan dilakukan dengan berbagai media, misalnya stiker, kaos, sepatu, graffiti, mural, dan sejumlah media-media alternatif lainnya.

Rasa Estetik ala Hendra

Salah satu ciri dari masyarakat kontemporer dewasa adalah merebaknya gaya hidup yang beragam. Ini juga berimbas pada keterkaitan sekolah seni dan musik. Banyak band bermunculan dari sekolah musik ini, dari IKJ dengan White Shoes and the Couples Company, Naif, Rumah Sakit, di FSRD ITB lahir Panas Dalam, Serius Band, dan di FSR ISI kita bisa sebut, Steak Daging Kacang Ijo, Kronchonk Chaos, Herpes, Jenny, I Hate Mondays, Black Ribbon, dan lain-lain. Hubungan antara sekolah seni dan musik ini membuka derasnya pengaruh dari budaya populer yang ditandai dengan citra-citra produk gaya hidup dari sepatu, kaos, jaket, tas, hingga sepeda. Berkembang kreativitas lain dari suburnya produk kreatif ini juga memicu inovasi baru dalam mencipta berbagai karakter untuk membuat satu produk berbeda dengan produk lainnya, disini ada dua kutub yang saling membutuhkan: industri membutuhkan inovasi, dan perupa muda ini menjawab dan mengisinya dengan menyematkan personalitas mereka pada tiap-tiap produk gaya hidup ini.

Kecenderungan untuk menampilkan personalitas dan keunikan atas tiap objek ini mendorong lahirnya strategi bertutur baru, yaitu dorongan untuk menciptakan metafor baru ketimbang mereproduksi tanda-tanda yang sudah umum atau common sense. Kita bisa memahami bagaimana zona ini membentuk pengalaman estetik Hendra dalam melahirkan tanda-tanda baru dalam karya-karyanya. Caranya membuat karya cenderung menciptakan karakter-karaker dan memberi nama-nama baru, dengan nunsa bercorak pop . Dengan visualitas seperti ini, karya-karya Hendra ini membawa kita pada suasana yang riang pada dunia yang dinamakannya “Utola Land”.

Pada suatu obrolan santai, Hendra mengatakan bahwa kecenderungan karya-karyanya memang ingin sedapat mungkin memiuh dari kecenderungan membuat karya yang: “memiliki makna-makna yang dalam”, ujarnya. Ungkapan ini terdengar seperti serampangan, namun bagi saya cukup menandai cara pandang Hendra yang mungkin pula mewakili generasinya dalam mengalami rasa estetik dari semangat zamannya. Pada lapis ini, dorongan untuk melepas tanda-tanda baru melalui langgam bahasa popular ini yang jauh lebih penting. Tanda yang ingin melepaskan dari kepastian makna yang lazim dikenal. Tanda-tanda ini lahir dengan berbagai bentuk yang tak umum, namun justru itu yang ingin diciptakan. Pada titik ini, apresian dipersilahkan untuk terlibat kembali dengan kelahiran tanda-tanda ini. Hendra tidak berpretensi karya-karyanya dianggap merefleksikan persoalan-persoalan sosial dan politik. Didalam kerangka kesadaran ini, Hendra sedang menumbuhkan rasa estetik tersendiri sesuai dengan rasa jaman yang dialaminya.

Fantasi: Labirin tak Berujung

Pada “Terlelap karena Terlalu Cepat” (Acrylic on Canvas, 2008), kita bisa melihat sosok yang menunggangi seekor tanda yang ambigu, entah rusa, kuda, atau apa? Sang penunggang yang tampak menutup mata dan tidak sendirian, Ia bersama sosok lain, yang wujudnya seperti alien. Dari kedekatannya, sang sosok ungu itu menempel dekat bak parasit. Kemudian lihat pada “Menunggumu dengan Makan Siang di Ladang Jamur” (Acrylic on Canvas, 2008) nampak sosok yang tersenyum dan bertanduk rusa, diatasnya ada sosok yang menggamit kepala sosok itu, disertai sejumlah jamur dan satu bilah kaki cumi?

Pada karya lain, kita bisa nikmati sosok-sosok kaktus yang bermunculan pada “Menjaga Tidurmu dengan Dengkuran” (Acrylic on Canvas, 2008), “Cactus Jack” (Acrylic on Canvas, 2008), “Biar Kembar Asal tetap Cinta” (Acrylic on Canvas, 2008). Pada karya-karya ini para kaktus hidup dan terkadang tumbuh dari objek-objek lain. Sesekali pula muncul dengan dua kepala atau bisa pula tampil sebagai kuping yang menyeruak panjang. Selain seri kanvas ini, Hendra juga membuat seri objek seperti pada “Bocah Penunggu Pohon” (Fiber Glass, 2008), “Cactus Jack Custom Series”(Fiber Glass, 2008). Melalui seri objek itu kita lebih bisa menikmati kehadiran karyanya secara volumetrik.

Inilah kelebihan dari suatu karya yang membangkitkan alam fantasi. Dalam ruang yang “semena-mena” ini, perupa menciptakan lanskap dunia baru. Yang tak perlu berkaitan dengan dunia nyata. Pada kreasi ini yang dipentingkan adalah kebaruan-kebaruan yang sedapat mungkin menyedot audiens masuk ke dalam daya bius arena fantasi. Seseorang yang masuk kedalam dunia fantasi dihisap sedalam-dalamnya untuk mengalami berbagai sensasi-sensasi yang tak ada di dalam dunia nyata.

Bila dalam cara kita berimajinasi kita memiliki kesempatan mengukur dan membandingkannya dengan dunia riil, kemudian dalam dunia ilusi kita melihat percabangan atau pembelokan lain dari gambaran realitas, maka fantasi lebih radikal, ia memutus total dunia nyata. Dalam dunia fantasi kita berkesempatan melihat yang hal-hal yang tak mungkin berhubungan menjadi sambung-menyambung. Dalam dunia fantasi kita melihat dan merasakan berbagai perayaan akan hal-hal yang kontraditif, ambivalen dan paradoks. Penciptaan arena fantasi ini pun seperti sebuah labiran tak berujung. Ia bisa mengembara ke segala arah, hanya daya fiksional kita yang bisa terus menghidupkan dan menghubungkannya dengan berbagai pengalaman-pengalaman baru. Esai kuratorial ini tentu tidak ingin menutup kesempatan Anda untuk terus meluaskan fantasi melalui tanah fantasi yang dibangunnya, tanah Utola.

Sudjud Dartanto, Kurator Pameran




1 comment:

RiRi said...

wah keren.. pameran tunggal hehe...